21
Rasanya seperti kau tidak berguna, bertanya-tanya kepada diri sendiri "Apa yang sudah saya lakukan selama ini?", "Apa tujuan saya hidup?", "Mau ke mana hidup akan membawa saya?", lebih memilih mengunci diri di dalam kamar membaca buku daripada keluar bertemu orang-orang yang pada akhrinya akan membuatmu memasang topeng lagi.
Ya, saya sekarang sampai pada titik itu. Orang-orang sering menyebutnya Quarter Life Crisis. Sebuah fase peralihan dari masa remaja menuju sikap dewasa.
Saya merasa seperti tidak berguna. Sampah berjalan. Dan belum punya pencapaian apa-apa dari diri sendiri untuk dibanggakan.
Saya resah karena umur segini belum bisa menghasilkan uang sendiri.
Saya resah karena umur segini belum bisa meraih mimpi.
Saya resah karena umur segini masih belum pernah pacaran.
Saya resah karena umur segini belum wisuda.
Saya resah karena umur segini masih tergantung sama orang tua.
Saya resah karena umur segini masih belum bisa membanggakan mereka.
Apa yang selama ini sudah saya lakukan?
Nongkrong dan bertemu teman-teman tidak bisa merubah apa-apa. Kau hanya merasa nyaman untuk sejenak, berbicara segala hal, membicarakan aib orang, setelah itu kau pulang dan kembali memikirkan berapa banyak waktu yang sudah kau habiskan secara sia-sia barusan. Lalu bertanya kepada diri sendiri ;
'Apa yang barusan saya lakukan?'
Saya hanya ingin sendiri.
Menjauhi kerabat, teman atau keluarga. Lebih tepatnya menjauhi persepsi-persepsi mereka tentang saya. Menjauhi pertanyaan "Kamu sibuk apa sekarang?", "Sudah kerja?", "IPK berapa?", "Kapan wisuda?", "Kuliah sudah berapa tahun?", dan hal-hal tidak penting lainnya.
Saya ingin mengenal dunia baru. Orang-orang baru. Pemikiran-pemikiran baru.
Apakah saya menyesal terhadap hari-hari kemarin yang sudah membentuk sampai hari ini?
Sepertinya tidak.
Pertanyaan-pertanyaan saya hanya lebih ke "Whats next?".
Saya cuman tidak tahu ke mana hidup akan membawa saya. Saya hanya takut gagal meraih apa yang sudah saya inginkan. Saya hnya takut gagal kalo masa depan saya malah dipengaruhi dan diatur oleh orang lain. Saya hanya takut sampai pada satu titik di mana orang-orang pada akhirnya berkata "Apa saya bilang, makanya jangan....kamu tidak mau mendengarkan sih". Dan saya hanya takut menunda terlalu lama, sebab orang tua saya juga semakin menua. Saya takut tidak sempat melakukan apa-apa untuk mereka.
Saya punya sasaran. Tapi semuanya selalu dipengaruhi dengan persepsi keluarga, persepsi orang tua, persepsi tetangga, persepsi teman lama dan persepsi dari mulut-mulut sampah lainnya. Terlalu buru-buru. Semuanya serba dikejar waktu. Kenapa kita semua menaruh harapan kepada orang lain hanya karena kita merasa berhak mengatur kehidupan mereka demi kita?
Saat ini mungkin yang saya butuh hanya berbaring diatas puncak bukit. Sendirian. Menatap langit yang bergelimang bintang. Menertawai sandiwara manusia bersama sepotong cahaya bulan. Bercinta dengan belaian angin yang berbisik ditelinga. Berbincang intim mengenai betapa takutnya kita terhadap kematian. Tanpa ada seseorang yang meracuni dengan persepsi. Hanya ada saya dan kejujuran. Hanya ada saya dan kesendirian. Ya, biarkan saya sendirian.



0 komentar